//
home

Latest Post

PAHAMI GEJALA AWAL DIABETES

SAFAMEDIKA DIABETES (artikel lengkap herbaldiabetes.net)Gejala awal diabetes yang paling mudah diketahui oleh penderita DM atau kencing manis adalah peningkatan kadar gula darah hingga mencapai 160 – 180 mg/dL. Atau bisa juga dilihat pada air kencing (urine) yang mengandung gula. Bahkan, air kencing tersebut terkadang dikerubuti semut. Jika hal ini terjadi, hampir bisa diperkirakan orang tersebut menderita … Continue reading

diabetes

  • SAFAMEDIKA DIABETES (JOGJA) : Akhir-akhir ini, prevalensi diabetes dan penyakit tidak menular (PTM) lainnya telah meningkat di Indonesia dan sekarang negara ini merupakan salah satu di antara lima negara di dunia dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak. Dengan membaiknya kondisi sosial ekonomi, angka harapan hidup yang meningkat dan perubahan gaya hidup, prevalensi diabetes diperkirakan akan jauh meningkat di masa mendatang. Karena peningkatan kejadian PTM, Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mengembangkan kebijakan dan strategi nasional dalam pencegahan dan pengendalian PTM. Proyek ini bertujuan untuk memperbaiki pelayanan diabetes di Indonesia melalui pendekatan holistik dengan sasaran pada tiga sisi sistem pelayanan kesehatan. Tujuan Proyek ini bertujuan untuk memperbaiki kapasitas pencegahan, deteksi dan pengobatan diabetes di Indonesia. Pendekatan  Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) merupakan pelaksana proyek ini bekerjasama dengan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tujuan proyek ini adalah untuk meningkatkan pelayanan diabetes oleh tenaga kesehatan terlatih dalam hal edukasi dan tata laksana diabetes di enam daerah di Indonesia. Mula-mula, materi pelatihan yang telah ada akan ditinjau dan dimodifikasi sesuai dengan situasi setempat saat ini. Internis yang bekerja di rumah sakit daerah dan dokter umum yang bekerja di puskesmas akan dilatih dalam tata laksana diabetes. Pelatihan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klinis peserta. Lebih lanjut, tenaga kesehatan akan dilatih tentang edukasi diabetes. Pelatihan akan meningkatkan kemampuan peserta dalam memberikan edukasi yang lebih baik untuk pasien diabetes dan keluarganya. Dalam proyek ini juga diadakan pertemuan antara dinas kesehatan daerah dan perwakilan dari puskesmas dan rumah sakit daerah yang bertujuan untuk memperbaiki sistem rujuan diabetes setempat. Durasi                          : Agustus 2006 – Oktober 2008 Anggaran Proyek          : USD 470,757 Kontribusi WDF           : USD 415,597 Nomor Proyek             : WDF06-173 Tim Manajemen Kepala Manajer Asisten Manajer : Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD : dr. Pradana Soewondo, SpPD-KEMD : dr. Indah S. Widyahening, MS, MSc-CMFM Koordinator Center Jakarta Bandung Yogyakarta Surabaya Denpasar Makasar Medan Padang   : dr. EM Yunir, SpPD : dr. Adhiarta, SpPD : dr. Bowo Pramono, SpPD-KEMD : dr. Agung Pranoto, MSc, SpPD-KEMD : Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD : Prof. dr. John MF Adam, SpPD-KEMD : dr. Dharma Lindarto, SpPD : Prof. Dr. dr. Asman Manaf, SpPD-KEMD
  • SAFAMEDIKA DIABETES (JOGJA) : Mungkin istilah Prolanis masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Prolanis atau Program Penanggulangan Penyakit Kronis adalah sebuah program dari Asuransi Kesehatan (Askes) yang terbilang masih baru. Dalam rapat Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) yang dilangsungkan di Hotel Mulia, Jakarta, pada 21 Mei 2011 lalu, dr. Umbu M. Marisi, MPH sebagai perwakilan dari Prolanis membeberkan lebih jauh berkenaan program tersebut. Banyak perubahan yang terus terjadi dalam dunia kesehatan Indonesia. Sebut saja penyakit infeksi, sebagai contoh, yang selama dekade terakhir menduduki peringkat pertama namun kini telah digantikan posisinya oleh penyakit degeneratif. Tak diragukan lagi, penyebabnya adalah pelayanan kesehatan yang terus berkembang maju sehingga usia harapan hidup pun kian bertambah. Dan secara tidak langsung, biaya kesehatan turut kena imbasnya. Beberapa tahun terakhir ini biaya kesehatan terus meningkat. Tidak terkecuali, masalah efektivitas pemakaian dana itu adalah tanggung jawab seluruh lapisan warga, termasuk PT. Askes Indonesia yang selama ini memberikan sumbangsih dalam memelihara kesehatan masyarakat. Jika ditilik kembali, premi sebesar 2% terhitung sangat minim. Hal tersebut tidak sepadan dengan besarnya populasi peserta Askes (57%) yang berusia 40 tahun ke atas dan memiliki risiko tinggi. Ditambah dengan adanya data bahwa 43% orang yang datang berobat ke rumah sakit merupakan penderita penyakit kronis, seperti gastritis, hipertensi, dan diabetes melitus (DM) yang membutuhkan pengobatan berulang. Penanganan jangka panjang terhadap penyakit kronis tersebut tentunya memakan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pengaturan harus berjalan sebaik mungkin agar premi yang minim tersebut dapat dialokasikan sebaik-baiknya demi pemeliharaan kesehatan para pesertanya Sebagai contoh dengan program prolanis pasian yang menderita penyakit kronis seperti diabetes dapat ditangani langsung oleh dokter keluarga. pasien akan merasa nyaman karena sampai saat ini telah tersedia jaringan dokter keluarga askes di setiap kecamatan. sumber perkeni.org
  • SAFA MEDIKA (DIABETES JOGJA) : Berikut ini adalah beberapa buah yang sangat bagus bagi penderita diabetes. Di samping rasanya yang enak, kandungan nutrisinya bisa membantu menyeimbangkan kadar gula darah. 1. Apel: Dilaporkan bahwa pada kulit dan daging apel mengandung pektin. Senyawa ini menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya sangat efektif membantu mengobati diabetes. Pektin di dalam tubuh bisa mengurangi kebutuhan insulin dalam tubuh hingga 35%. Tidak hanya itu, mengkonsumsi buah apel ini juga meningkatkan pengaturan dan menyeimbangkan kadar gula darah. 2. Stroberi: American Diabetes Association pernah menyatakan bahwa stroberi termasuk salah satu ‘super food’ karena memiliki indeks glikemik rendah, yaitu 40 untuk 120 g stroberi. Ini sangat bagus dikonsumsi oleh penderita diabetes. Di samping itu, stroberi juga mempunyai banyak serat dan bisa mengurangi resiko penyakit jantung bagi penderita diabetes. 3. Jeruk Bali: Jeruk Bali juga memiliki indeks glikemik 25 per 120 gram. Dengan demikian, buah ini bisa meningkatkan sensitivitas insulin. Di samping itu, buah ini juga dapat meningkatkan cadangan alkali dalam darah. Hal ini dapat melawan tingkat keasaman diabetes pada penderita diabetes. 4. Alpukat: Buah ini sangat bagus untuk membantu mengurangi kolesterol pada penderita diabetes. Alpukat juga bisa mempertahankan tingkat trigliserida dalam darah. Kandungan karbohidrat dan lemak sehat di dalam alpukat bisa mengurangi resiko diabetes tipe 2 pada wanita ataupun oang-orang yang memiliki risiko tinggi. Tidak hanya itu, Alpukat juga kaya akan vitamin E yang bisa meningkatkan aksi insulin dengan menghambat pengikatan glukosa menjadi lipoprotein low density.
  • SAFA MEDIKA (DIABETES JOGJA) : Mengonsumsi dua iris keju dalam sehari dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 sebesar 12%. Demikian diungkapan penelitian, seperti dilansir dari time of india. Temuan ini sama saja membantah anjuran kesehatan yang selama ini digencarkan yaitu agar manusia mengurangi asupan makanan yang mengandung susu dan makanan berlemak tinggi untuk mencegah penyakit. Peneliti dari Inggris dan Belanda melakukan penelitian dengan melihat pola makan 16.800 orang dewasa yang sehat dan 12.400 pasien dengan diabetes tipe 2 dari delapan negara Eropa, termasuk Inggris. Studi ini menemukan bahwa mereka yang makan setidaknya 55 gram keju sehari - sekitar dua iris - adalah 12% lebih rendah untuk terserang diabetes tipe 2. Serta risiko jatuh dengan jumlah yang sama untuk mereka yang makan 55 gram yoghurt sehari. "Terlalu sederhana untuk berkonsentrasi pada makanan setiap individu," kata DrFrame, Direktur penelitian."Kami merekomendasikan diet seimbang yang sehat, kaya buah dan sayuran dan rendah garam dan lemak,” sambungnya lagi. "Studi ini memberi kita alasan untuk percaya bahwa orang harus mengubah asupan susu mereka dalam upaya untuk menghindari kondisi tersebut," tambahnya. Studi ini telah dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition. (*)
  • SAFA MEDIKA JOGJA (DIABETES) :  penyandang diabetes (diabetisi) baik di Indonesia maupun dunia mengalami peningkatan pesat. Pada 2030, di Indonesia diperkirakan akan terdapat lebih dari 21 juta diabetisi. Sementara International Diabetes Federation memperkirakan bahwa di tahun yang sama, jumlah diabetisi di seluruh dunia mencapai angka 450 juta. Angka yang memprihatinkan terutama dimana penyakit diabetes merupakan penyakit kronis yang bersifat progresif. Diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronis pada berbagai organ vital, khususnya jika tidak dilakukan pengendalian kadar gula darah dengan ketat. Komplikasi kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis yang sangat menakutkan bagi diabetisi. Saat terjadi luka di kaki, risiko terbesar yang bisa dialami diabetisi ialah amputasi mayor (di bawah lutut) maupun minor (hanya jari-jemari). “Tiap 30 detik, ada satu penderita diabetes yang diamputasi. Gangguan kaki diabetik pada diabetisi dapat terjadi karena kendali kadar gula yang tidak dilakukan dengan baik dan terus menerus. Faktor utama penyebabnya ialah kerusakan saraf dan gangguan pembuluh darah,” papar Prof Dr dr Sarwono Waspadji, Sp.PD (K) pada Media Edukasi “Jangan Abaikan Kelainan Kaki Diabetik! Lakukan Deteksi Dini” di Le Meridien Hotel, Jakarta, belum lama ini. Saraf yang telah rusak membuat diabetisi tidak dapat merasakan sensasi sakit, panas, ataupun dingin pada kaki dan tangan. Akibatnya, luka pada kaki dapat memburuk karena diabetisi tidak menyadari adanya luka tersebut. Kerusakan saraf terjadi pada lebih dari 50 persen diabetisi. Gejala umum yang terjadi adalah rasa kebal dan kelemahan pada tangan dan kaki. “Deteksi dini dapat mencegah risiko amputasi antara 40 hingga 85 persen. Cara pencegahannya pun terbilang sangat mudah dan murah, di antaranya melakukan pemeriksaan kaki setiap hari, memakai alas kaki di luar dan dalam rumah, pakai kaus kaki berbahan katun tebal untuk menahan benturan, menggunakan alas kaki yang tepat untuk mencegah luka dan lecet, mencuci dan mengeringkan kaki setiap hari, menggunting kuku secara mendatar, dan menggunakan losion pelembut kulit secara teratur,” imbuhnya. Dijelaskan Prof Sarwono, konsultasikan ke dokter jika terjadi perubahan bentuk pada kaki atau sela jari melepuh dan mengeras. Pastikan kulit kaki tidak kering atau pecah-pecah dengan losion, dan periksa apakah kuku terlihat kusam, tebal, dan tumbuh ke dalam. sumber krjogja.com